Bos Yamaha MotoGP Anggap 20 Seri Semusim Terlalu Banyak

Lin Jarvis Berharap Jumlah 20 Seri per Musim Sudah Maksimal

Dengan bergabungnya Thailand pada musim depan menjadikan jumlah seri musim depan menjadi 19 seri dan semusim berikutnya, jumlah seri per musim bertambah menjadi 20 dengan bergabungnya Finlandia. Hal itu dinilai Lin Jarvis, bos tim Yamaha MotoGP terlalu banyak.

Seperti dilansir Crash  pada Rabu (20/12/2017), pria Inggris tersebut mengatakan harapannya agar jumlah seri per musim dalam kalender MotoGP World Championship sudah maksimal.

“20 seri terlalu banyak, tidak hanya bagi para pebalap, kami semua dan termasuk semua awak media. Melakukan tiga kali penerbangan jauh (merujuk ada 4 benua dimana seri-seri MotoGP World Championship per musim diselenggarakan yaitu Eropa, Amerika, Asia dan Australia, sedangkan Yamaha berbasis di benua Asia yaitu di Jepang [red.]) merupakan hal yang sangat melelahkan yang kita semua rasakan di akhir musim. Semoga saja jumlah 20 seri sudah maksimal,”ujar Jarvis.

“Saya setuju dengan adanya pengurangan jumlah sesi test saat jumlah seri mencapai 20 seri per musim,”imbuh Jarvis.

Jarvis selanjutnya menyebut bila peningkatan jumlah seri per musim seharusnya membuat otoritas penyelenggara juga memberikan tambahan jumlah motor bagi semua pebalap dimana jumlah 7 motor yang diperkenankan untuk setiap pebalap saat ini ditambah menjadi 8 motor pada 2019 nanti.

Simak juga:

Vinales Tak Mengira Bila Ternyata Rossi Rekan Setim yang Menyenangkan

Hampir senada dengan Jarvis, bos LCR Honda Livio Suppo mengatakan,”Saya sependapat dengan para pebalap yang menilai jumlah 20 per seri per musim sudah lebih dari cukup.”

Suppo bahkan mengancam apabila jumlah seri per musim masih ditambah lagi, maka ia akan memilih untuk berhenti ikut berpartisipasi.

Selain itu, Suppo juga mengeluhkan jumlah sesi test yang semestinya juga harus dikurangi karena ia menilai dengan kondisi tersebut membuat jadwal yang ada menjadi sangat ketat.

 

 

 

 

image: GpXtra

Berlangganan_Berita

Comments are closed.